Jumat, 26 Oktober 2012

Auditing : Proses Pemeriksaan Keseluruhan


BAB 12
PROSES PEMERIKSAAN SECARA KESELURUHAN

A. Jenis-Jenis Pengujian
      Dalam mengembangkan sutu rencana audit secara keseluruhan, auditor menggunakan lima jenis pengujian ( Types of test)  untuk menentukan apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar. Auditor menggunakan prosedur pengukuran resikon untuk menilai resiko salah saji material. Keempat pengujian lainnya merupakah prosedur audit selanjutnya (further audit procedures) yang dilaksanakan sebagai respon terhadap resikon yang diidentifikasi .
1. Prosedur Pengukuran Resiko
Standar pekerjaan lapangan kedua mengharuskan auditor untuk mendapatkan pemahaman atas entitas dan lingkungannya, termasuk pengendalian internalnya serta bahan bukti untuk mengukur resiko salah saji material dalam laporan keuangan klien
Lima jenis prosedur audit yang berhubungan dengan pemahaman auditor terhadap pengendalian intern yaitu:
Pengalaman auditor pada periode sebelumnya terhadap satuan usaha tersebut
Meminta keterangan dari personil klien
Membaca manual sistem dan kebijakan klien
Menguji dokumen dan arsip
Mengamati aktivitas dan operasional entitas
2. Pengujian Pengendalian
      Pemahaman auditor terhadap pengendalian internal digunakan untuk mengukur resiko pengendalian untuk setiap tujuan audit terkait transaksi. Tingkat resiko pengendalian yang ditetapkan harus dibatasi sampai tingkat yang didukung oleh bahan bukti yang diperoleh. Contohnya adalah hasil pengukuran atas tujuan akurasi untuk transasi penjualan adalah rendah sedangkan untuk tujuan keterjadian adalah sedang. Pengujian pengendalian, dapat mencakup jenis-jenis bukti berikut:
Meminta keterangan dari personil klien yang tepat
Memeriksa dokumen, catatan dan laporan
Mengamati aktivitas yang berkaitan dengan pengendalian
Melaksanakan kembali prosedur klien
Dua prosedur yang pertama sama dengan jenis bahan bukti yang diperoleh dalam memahami struktur pengendalian intern. Sehingga, penetapan resiko pengendalian dan pengujian atas pengendalian dapat dikatakan sebagai kelanjutan dari prosedur audit yang digunakan untuk memperoleh pemahaman struktur pengendalian intern. Perbedaan utama adalah bahwa dengan pengujian atas pengendalian tersebut, tujuan menjadi lebih spesifik dan pengujian menjadi ekstensif.
Contoh:
Menyamakan invoice supplier dengan purchase order dan receiving report sebelum menyetujui pembayaran invoice danMemeriksa kartu absensi karyawan sebelum menyetujui pembayaran uang lembur           
Pengujian pengendalian merupakan prosedur audit yang dirancang untuk memverifikasi efektivitas pengendalian intern klien. Pengujian pengendalian terutama ditujukan untuk mendapatkan informsi mengenai:
1) Frekuensi pelaksanaan aktivitas pengendalian yang ditetapkan,
2) Mutu pelaksanaan aktivitas pengendalian tersebut dan,
3) Karyawan yang melaksanakan aktivitas pengendalian tersebut. 
Auditor melakukan pengujian dengan cara memilih secara acak surat order pembelian yang dibuat oleh klien dalam tahun yang diperiksa dan kemudian melakukan audit mengenai:
1) Frekuensi pelaksanaan aktivitas pengendalian. Dalam pengujian pengendalian, auditor memeriksa seberapa banyak transaksi pembelian diotorisasi dari pejabat yang berwenang dalam periode yang diperiksa. 
2) Mutu pelaksanaan aktivitas pengendalian. Otorisasi dari pejabat yang berwenang merupakan salah satu aktivitas pengendalian untuk mengawasi transaksi pembelian. Di samping auditor berkepentingan terhadap frekuensi terjadinya pengendalian atas transaksi pembelian melalui otorisasi tersebut, dalam pengujian pengendalian auditor juga menguji mutu pelaksanaan aktivitas pengendalian tersebut. Seringkali dalam melaksanakan suatu aktivitas, karyawan hanya melaksanakan aktivitas tersebut tanpa mengetahui apa yang hendak dicapai dengan aktivitas pengendalian tersebut. Pelaksanaan suatu aktivitas pengendalian dikatakan baik mutunya jika aktivitas tersebut dapat mencapai tujuan yang hendak dicapai dengan melaksanakan aktivitas pengendalian tersebut.
3) Karyawan yang melaksanakan aktivitas pengendalian. Pelaksanaan suatu aktivitas pengendalian sangat tergantung pada siapa yang melaksanakan aktivitas tersebut. Salah satu unsur pengendalian intern terhadap sediaan adalah dilakukannya secara periodik pencocokan jumlah fisik sediaan yang benar-benar ada di tangan perusahaan dengan jumlah sediaan yang tercantum dalam catatan akuntansi. Biasanya aktivitas pengendalian ini dilaksanakan oleh klien dengan penghitungan fisik sediaan. Dalam pengujian pengendalian auditor menguji apakah secara periodik klien melaksanakan aktivitas pengendalian terhadap sediaan. Di samping itu auditor juga melakukan pengujian mengenai karyawan yang melaksanakan aktivitas pengendalian tersebut    
3. Pengujian substantive Transaksi
Pengujian substantive merupakan prosedur yang dirancang untuk menguji salah saji rupiah ( sering kali disebut salah saji moneter) yang secara langsung berpengaruh pada ketepatan saldo laporan keuangan. Tujuan pengujian substantive atas transaksi adalah untuk menentukan apakah transaksi akuntansi klien telah diotorisasi dengan pantas, dicatat dan diiktisarkan dalam jurnal dengan benar dan diposting ke buku besar dan buku tambahan dengan benar.
Kesalahan moneter yang terdapat dalam informasi yang disajikan dalam laporan keuangan kemungkinan terjadi karena kesalahan dalam: 
a. Penerapan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia
b. Tidak diterapkannya prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia 
c. Ketidakkonsistensian dalam penerapan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia 
d. Ketidaktepatan pisah batas (cutoff) pencatatan transaksi 
e. Perhitungan (penambahan, pengurangan, pengalian dan pembagian) 
f. Pekerjaan penyalinan, penggolongan dan peringkasan informasi 
g. Pencantuman pengungkapan (disclosure) unsur tertentu dalam laporan keuangan 
Sebagai contoh, dalam pengujian substantif terhadap pendapatan penjualan (sale revenues), auditor melakukan prosedur audit untuk menemukan: 
1. Kemungkinan terjadinya kesalahan klien dalam menerapkan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia, sehingga berakibat angka pendapatan penjualan dalam laporan laba-rugi menjadi lebih rendah atau lebih tinggi dari jumlah yang seharusnya
2. Adanya kemungkinan klien menyajikan informasi pendapatan penjualan yang tidak berdasarkan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia, sehingga dapat mengakibatkan pemakain laporan keuangan salah dalam membuat keputusan 
3. Kemungkinan klien mengubah prinsip akuntansi yang digunakan dalam menyajikan angka pendapatan penjualan dan tidak memberikan pengungkapan mengenai akibat perubahan penerapan prinsip tersebut terhadap angka hasil laba bersih, sehingga hal ini dapat mengakibatkan tidak dapat diperbandingkannya laporan keuangan klien tahun yang diaudit dengan laporan keuangan klien yang disajikan dalam tahun sebelumnya.
4. Kemungkinan klien melakukan pisah batas (cutoff) transaksi penjualan tidak tepat atau tidak konsisten dengan yang digunakan dalam tahun sebelumnya. Misalnya transaksi penjualan tahun 20X1 dicatat oleh klien sebagai pendapatan penjualan tahun 20X1. Contoh lainnya adlaah dalam tahun yang diaudit, klien menggunakan tangga 24 Desember sebagai tanggal pisah batas (cutoff) untuk memisahkan transaksi penjualan tahun yang diaudit dengan tahun yang akan datang, sedangkan dalam tahun sebelumnya klien menggunakan tanggal 31 Desember sebagai tanggal pisah batas. Hal ini akan berakibat terhadap terjadinya kesalahan penyajian angka pendapatan penjualan dalam laporan laba-rugi. 
5. Kemungkinan terjadinya kesalahan moneter dalam menyajikan angka pendapatan penjualan karena terjadinya kesalahan pekerjaan klerikal (clerical works). Pengumpulan informasi penjualan mencakup kegiatan menyalin informasi dari berbagai dokumen ke dalam jurnal: kegiatan menjumlah, mengurangi, mengalikan dan membagi: kegiatan meringkas informasi dalam jurnal dan memindahkan jumlahnya untuk di posting ke dalam akun-akun buku besar: kegiatan menyajikan informasi dalam laporan keuangan. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan kegiatan klerikal. Dalam pengujian substantif, auditor melakukan prosedur audit untuk menemukan kesalahan moneter sebagau akibat dari kesalahan pekerjaan klerikal ini 
6. Kemungkinan tidak cukupnya pengungkapan dari klien yang seharusnya dicantumkan dalam laporan keuangan yang dapat mengakibatkan pemakai lapora keuangan salah dalam mengambil keputusan. Misalnya klien mengajikan angka pendapatan penjualan dalam tahun yang diaudit sebesar Rp. 500.000.000,-. Informasi tersebut misalnya disajikan oleh klien dalam laporan laba-rugi tanpa pengungkapan lebih lanjut. Dari pengujian subtantif misalnya auditor menemukan informasi bahwa 75 % dari jumlah tersebut merupakan pendapatan penjualan klien dari transaksi penjualan produk kepada anak perusahaannya. Karena sebagian besar angka pendapatan penjualan tersebut terjadi dari transaksi antar pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa (hubungan induk-anak perusahaan), maka auditor harus mengusulkan kepada klien untuk menambahkan pengungkapan (disclosure) mengenai informasi tersebut dalam laporan keuangan.
4. Prosedur analitis
Prosedur analitis (pengujian analitis) adalah evaluasi atas informasi keuangan yang dilakukan dengan mempelajari hubungan logis antara data keuangan dan nonkeuangan. Meliputi perbandingan jumlah-jumlah yang tercatat dengan ekspektasi auditor.
Terdapat lima jenis prosedur analitis:
 Membandingkan data klien dengan industri
 Menbandingkan data klien dengan data yang serupa pada periode sebelumnya
 Membandingkan data klien dengan data yang diperkirakan oleh klien
 Membandingkan data klien dengan data yang diperkirakan oleh auditor
 Membandingkan data klien dengan hasil perkiraan yang menggunakan data non keuangan
Tujuan utama dari prosedur analitis dalam tahap perencanaan ini adalah :
1. Memahami bidang usaha klien
2. Menetapkan kemampuan kelangsungan hidup suatu entitas
3. Menunjukkan kemungkinan adanya salah saji dalam laporan keuangan
4. Mengurangi  pengujian audit yang lebih rinci
Seperti telah dijelaskan di atas, pengujian ini dilakukan oleh auditor pada tahap awal proses audinya dan pada tahap review menyeluruh terhadap hasil audit. Pengujian ini dilakukan oleh auditor dengan cara mempelajari perbandingan dan hubungan antara data yang satu dengan data yang lain. Pada tahap awal proses audit, pengujian analitik dimaksudkan untuk membantu auditor dalam memahami bisnis, klien dan dalam menemukan bidang yang memerlukan audit lebih intensif. Sebelum seorang auditor melaksanakan audit secara rinci dan mendalam terhadap objek audit, ia harus memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai perusahaan yang diaudit. Untuk itu, analisis ratio, analisis laba bruto, analisis terhadap laporan keuangan perbandingan (comparative financial statements) merupkaan cara yang umumnya ditempuh oleh auditor untuk mendapatan gambaran menyeluruh dan secara garis besar mengenai keadaan keuangan dan hasil usaha klien. 
5. Prosedur Terperinci Saldo
      Pengujian terperinci saldo memfokuskan pada saldo akhir buku besar baik untuk akun-akun neraca maupun laba rugi. Penekanan utama dalam sebagian besar pengujian atas perinci saldo adalah pada neraca. Pengujian terinci atas saldo akhir ini penting dalam pelaksanaan audit, karena dalam kebanyakan bagiaannya, bahan bukti diperoleh dari sumber yang independent dari klien dan dengan demikian dinilai berkualitas tinggi. Misalnya termasuk konfirmasi atas saldo pelanggan untuk akun piutang dagang, pemeriksaan fisik persediaan, serta pemeriksaan laporan pemasok untuk utang dagang.
Pengujian terinci atas saldo bertujuan memberikan kebenaran moneter atas akun-akun yang berkaitan.
Ikhtisar jenis-jenis pengujian
Pengujian pengendalian membantu auditor dalam mengevaluasi apakah pengendalian terhadap transaksi dalam siklus tersebut telah cukup efektif untuk mendukung pengurangan penilaian resiko pengendalian.
Pengujian pengendalian akan membantu auditor mengevaluasi apakah pengendalian atas transaksi dalam siklus itu cukup efektif untuk mendukung pengurangan penilai resiko pengendalian. Dan dengan demikian mengurangi pengujian subtantif. Pengujian substantive atas transaksi digunakan untuk memverifikasi transaksi yang dicatat dalam jurnal dan memposting ke buku besar. Prosedur analitis menekankan kelayakan transaksi dan saldo buku besar secara keseluruhan. Pengujian atas rincian saldo menekankan saldo akhir buku besar.  Dengan mengabungkan jenis pengujian audit, auditor akan memperoleh kepastian yang lebih tinggi secara keseluruhan menyangkut transaksi dan akun-akun dalam siklus penjualan serta penagihan ketimbang yang diperoleh dari salah satu pengujian itu. 
B. Memilih Jenis Pengujian yang tepat untuk dilakukan
1. Ketersediaan jenis bukti prosedur audit lanjutan
Biasanya auditor menggunakan kelima jenis pengujian ketika melakukan audit atas laporan keuangan, tetapi ada jenis tertentu yang lebih ditekankan, tergantung pada situasinya. Prosedur penilaian resiko sangat diperlukan dalam semua audit untuk menilai resiko salah saji yang material, sementara keempat jenis pengujian lainnya dilaksanakan sebagai respons terhadap resiko yang diidentifikasi untuk memberikan dasar bagi pendapat auditor. 
Beberapa faktor dapat mempengaruhi pilihan auditor atas jenis pengujian yang akan dipilih:
a. Ketersediaan 8 jenis bukti
b. Biaya relative dari setiap pengujian
c. Efektivitas pengendalian internal
d. Resiko inheren
a. Ketersediaan 8 jenis bukti
Hubungan jenis pengujian dan audit evidence
Ø Makin banyak jenis bukti, yang  jumlah totalnya adalah enam digunakan untuk menguji peperincian saldo dibandingkan untuk setiap pengujian lainnya.
Ø Hanya pengujian terperinci saldo yang melibatkan pemeriksaan fisik dan konfirmasi.
Ø Tanya jawab dengan klien dilakukan untuk setiap pengujian
Ø Dokumentasi digunakan di setiap jenis pengujian kecuali prosedur analitis
Ø Pengerjaan ulang digunakan di setiap jenis pengujian kecuali prosedur analitis, dengan satu pengecualian. Ketika auditor memeriksa dokumentasi sebagai bagian dari penelusuran atas transaksi untuk mendapatkan pemahamab atas pengendalian internal, auditor sering kali “mengerjakan ualng” pengendalian untuk meyakinkan bahwa pengendalian telah diterapkan.
Ø Rekalkulasi digunakan untuk menverifikasi keakuratan matematis transaksi apabila  melaksanakan penjualan substantive atas transaksi dan akun ketika melaksanakan pengujian rincian saldo.
b. Biaya relative dari setiap pengujian
Ketika auditor harus memutuskan jenis pengujian apakah yang harus dipilih untuk mendapatkan bukti yang tepat, biaya bukti tersebut penting untuk dipertimbangkan jenis-jenis pengujian yang disusun dalam daftar berikut berdasarkan urutan biaya yang terendah ke yang tinggi
1) Prosedur analitis
2) Prosedur penilaian resiko, termasuk prosedur untuk mendapatkan pemaham atas pengendalian internal
3) Pengujian Pengendalian
4) Pengujian substantive transaksi
5) Pengujian terperinci saldo
Alasan mengapa prosedur analitis merupakan prosedur yang paling murah adalah karena relative mudah untuk membuat perhitungan dan perbandingan. Pengujian atas pengendalian juga tendah dalam biayanya karena dalam membuat penyelidikan dan pengamatan serta pemeriksaan atas hal – hal seperti inisial pada dokumen dan indikasi keluar dari prosedur pengendalian yang lain. Tetapi terkadang pengujian atas pengendalian dapat dilakukan dalam jumlah besar pos.
Pengujian substantive atas transaksi lebih mahal daripada pengujian atas pengendalian yang tidak mencakup pelaksanaan ulang karena seringkali diperlukan perhitungan kembali dan penelusuran.
Pengujian terperinci atas saldo kebanyakan selalu lebih mahal dari pada jenis prosedu yang lain. Dibutuhkan biaya untuk mengirim konfirmasi dan menghitung aktiva. Karena mahalnya pengujian terinci atas saldo maka auditor berusaha untuk meminimalkan penggunaannya.
C. Hubungan Antara Beberapa Pengujian
Hubungan Pengujian pengendalian dengan pengujian substantive
Untuk memahami pengujian pengendalian dan pengujian substantive dengan lebih baik. Suatu pengecualian dalam pengujian pengendalian hanya mengidentifikakan kemungkinan salah saji yang mempengaruhi nilai rupiah dari laporan keuangan, sedangkan sutu pengecualian dalam pengujian substantive transaksi atau pengujian terperinci saldo merupakan suatu salah saji dalam laporan keuangan. Pengecualian dalam pengujian pengendalian dinamakan deviasi uji pengendalian.
Hubungan prosedur analitis dan pengujian substantive
Seperti halnya pengujian pengendalian, prosedur analitis hanya mengindikasikan kemungkinan salah saji yang berpengaruh pada nilai rupiah laporan keuangan.
Trade Off antara Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantive
Terdapat penyeimbangan (trade off) antara pengujian atas pengendalian dan pengujian substantive. Auditor membuat keputusan selama perencanaan apakah akan menetapkan risiko pengendalian dibawah maksimum. Pengujian atas pengendalian harus dilakukan untuk menentukan apakah risiko pengendalian yang ditetapkan akan dibenarkan. Jika risiko pengendalian yang ditetapkan dibawah maksimum, resiko penemuan yang direncanakan dalam model risiko audit ditingkatkan sehingga pengujian substantive yang direncanakan dapat dikurangi.
D. Dampak Teknologi Informasi Terhadap Pengujian Audit
Tidak praktis untuk mengurangi resiko pendeteksian dengan hanya melakukan ujian substantive. Auditor perlu melaksanakan pengujian pengendalianuntuk mendukung penilaian resiko pengendalian menajdi dibawah maksimum.
Penggunaan TI→ dapat meningkatkan pengendalian internal dengan menambahkan prosedur pengendalian baru yang dilakukan oleh komputer dan dengan menggantikan kendali manual yang merupakan subyek bagi kesalahan manusia. Bukti kinerja dari pengendalian yang terotomatisasi, seperti perbandingan pesanan penjualan yang diusulkan dengan batas kredit pelanggan yang dilakukan computer, juga hanya bisa dalam bentuk elektronik.
Standar auditing mengakui bahwa jika ada sejumlah besar bukti audit dalam format elektronik, mungkin tidak praktis atu tidak mungkin untuk mengurangi resiko deteksi hingga tingkat yang dapat diterima dengan hanya melakukan pengujian substantive. Sebagai contoh, potensi untuk memprakarsai dan mengubah informasi yang tidak layak mungkin lebih besar jika informasi itu hanya diselenggarakan dalam format elektronik. Dalam situasi ini, auditor dapat mengurangi pengujian substantive secara signifikan jika hasil pengujian pengendalian mendukung kefektifan pengendalian itu. Dalam audit perusahaaj public, pengendalian yang dilaksanakan computer, harus diuji jika auditor mempertimbangkannya sebagai pengendalian kunci untuk mengurangi kemungkinan salah saji yang material dalam laporan keuangan.
Namun, karena konsistensi yang melekat dalam pemrosesan TI auditor, mungkin dapat mengurangi luas pengujian atas pengendalian yang terotomatisasi. Sebagai contoh, pengendalian berbasis perangkat lunak hamper pasti dapat berfungsi secara konsisten kecuali programnya diubah. Setelah menentukan bahwa pengendalian yang terotomatisasi berfungsi dengan baik, auditor dapat berfokus pada pengujian berikutnya untuk menilai apakah setiap perubahan yang terjadi akan membatasi efektivitas pengendalian tersebut. Pengujian semacam itu mungkin meliputi penentuan apakah setiap perubahan telah terjadi pada program dan apakah perubahan tersebut telah diotorisasi dan diuji dengan layak sebelum diimplementasikan. Pendekatan ini menghasilkan audit yang snagat efisien apabila auditor menentukan bahwa pengendalian terotomatisasi yang telah diuji pada audit tahun sebelumnya belum diubah dan tetap mengikuti pengendalian umum yang efektif. Akan tetapi sebaiknya auditor perusahaan public menguji pengendalian setiap tahun.
E. Bauran Bukti
Terdapat banyak variasi dalam keluasan penggunaan kelima jenis pengujian dalam situasi audit yang berbeda pada berbagai tingkat keefektivitas pengendalian internal. Analisasetiap situasi audit sebagai berikut:
Analisa Audit 1
Ø  Klien perusahaan besar dengan pengendalian internal yang canggih dan resiko inheren yang rendah :
 Auditor melakukan pengujian pengendalian yang ekstensif 
 Auditor sangat percaya kepada pengendalian internal klien untuk mengurangi pengujian substantive 
 Pengujian substantif transaksi dan ujian rincian saldo diperkecil
 Pengujian pengendalian dan prosedur analitis, yang tergolong relatif murah
• Analisa Audit 2
Ø  Perusahaan berukuran sedang, banyak pengandalian dan beberapa resiko inheren:
 Auditor memutuskan untuk melakukan semua jumlah pengujian menengah,kecuali prosedur analitis yang akan dilaksanakan secara ekstensif 
 Pengujian ekstensif dilaksanakan jika ada aresiko inheren
• Analisa Audit 3
Ø  Perusahaan berukuran sedang tetapi mempunyai sedikitpengendalian efektif dan resiko inheren yang besar :
 Tidak ada pengujian pengendalian yang dilakukan
 Ditekankan kepada ujian rincian saldo dan ujian substantif transaksi,juga beberapa prosedur analitis
 Prosedur analitis dilakukan untuk mengurangi pengujian substantif 
 Biaya audit relatif tinggi karena jumlah pengujian substantif yang rinci
 Analisa Audit 4
Ø  Auditor menemukan penyimpangan pengujian pengendalianekstensif san salah saji yang penting selagi melakukanpengujian substantif transaksi dan prosedur analitis :
 Pengendalian internal tidak efektif 
 Pengujian ekstensif dan rincian saldo dilakukan untuk mengganti kerugian hasil yang tidak dapat diterima dari pengujian yang lain

Jumat, 27 Januari 2012

DAFTAR ISTILAH AKUNTANSI

Sumber: www.beritaterkini.asia
A
Account = Akun Rekening
Account form = Bentuk akun
Account no = Nomor akun
Accountting = Akuntansi
Accountting concept = Konsep Akuntasi
Accountting equation = Persamaan akuntasi
Accountting framework = Rerangka acuan akuntansi
Accountting principles = Prinsip-prinsip akuntans
Accountting information = Informasi akuntansi
Accountting period = Periode akuntasi
Accountting policy = Kebijakan akuntansi
Accountting process = Proses akuntasi
Accountting records = Catatan akuntansi
Accountting standard = Standar akuntansi
Accountting cycle = Siklus akuntansi
Accountting system = Sistem akuntansi
Account payable = Utang usaha
Account receivable = Piutang usaha
Accrual basis = Dasar akrual
Accumulated depreciation = Akumulasi deprisiasi
Adjusting entry = Jurnal penyesuaian
Advertising expense = Beban iklan
Assets = Asset ( harta)
Auditing = Pemeriksaan akuntansi
----------------------------------
B
Bad debt expense = Beban piutang ragu-ragu
Balance = Saldo
Balance sheet = Neraca
Bank Reconciliation = Rekonsilaiasi bank
Bank statement = Laporan bank
Bonds payable = Utang obligasi
Book value = Nilai buku
Building = Bangunan
----------------------------------
C
Capital = Modal
Capital expenditure = Pengeluaran modal
Cash = Kas
Cash dividend = Dividen kas
Cash in bank = Kas di bank
Cash flow = Arus kas
Cash overdraft = Kas negative
Cash sales = Penjualan tunai
Cash payment journal = Jurnal pengeluaran kas
Cash receipt journal = Jurnal penerimaan kas
Cash short and over = Beda kas/selisih kas
Chart of account = Bagan akunt (perkiraan)
Closing journal entry = Ayat jurnal penutup
Comission earned = Pendapatan komisi
Corporation = Korporasi (perseroan)
Cost = Kos
Cost accounting = Akuntansi biaya
Credit sale = Penjualan kredit
Current asset = Aset (harta) lancer
Current liability = Utang lancer
Current ratio = Rasio lancer
Customer = Pelanggan
----------------------------------
D
Date = Tanggal
Declining balance method = Metode depresiasi saldo menurun
Debit = Debit
Deposit in transit = Setoran dalam perjalanan
Depreciation expense = Beban depresi
Direct write-off method = Metode penghapusan langsung
Drawing = Pengambilan oleh pemilik (prive)
----------------------------------
E
Earning = Pendapatan
Earning per share = Laba perlembar saham
Economic entity = entitas ekonomi
Economic life = usia ekonomis
Expense = beban
----------------------------------
F
Fair market value = nilai pasar wajar
FASB = financial accounting standard board
FIFO (first in first out ) = masuk pertama keluar pertama
Financial statement = laporan keuangan
Fixed asset = asset ( harta) tetap
Freight-in = beban angkut pembelian
Freight- out = beban angkut penjualan
----------------------------------
G
Gain on sale land = Laba dari penjualan tanah
Gain on sale investment = laba dari penjualan investasi
General journal = jurnal umum
General ledger = buku besar umum
Going concern concept = konsep keseimbangan
General marketing expense = Beban umum pemasaran
General administrative expense = Beban umum administrasi
Gross profit = laba kotor
Gross profit method = metode laba kotor
Gross sales = penjualan kotor
----------------------------------
H
Hidden Reserves = Cadangan rahasia
Historical cost Accounting = Harga perolehan historis
Historical cost = biaya historis
Horizon Analyst = Analisa mendatar
Human Resource Accounting = Akuntansi sumber daya manusia
----------------------------------
I
Income statement = laporan laba rugi
Income tax = pajak penghasilam
Income tax payable = utang pajak penghasilan
Idle cash = kas yang menganggur
Insurance expense = beban asuransi
Intangible fixed asset = asset tetap tidak terwujud
Interest bearing notes = wesel berbunga
Interest income = pendapatan bunga
Internal control = pengendalian internal
Inventory = persediaan
Investment = investasi
Investment in board = investasi dalam obligasi
Investment in stocks = investasi dalam saham
Invoice = Faktur
----------------------------------
J
Job time ticket = Kartu jam kerja
Joint cost = Biaya gabungan
Joint cost of capital = Biaya penggunan modal bersama
Joint product = Produksi gabungan
Joint venture = Usaha patungan
Joint venture books = buku-buku usaha patungan
Journal = Buku harian
Journal entry = Ayat-ayat jurnal
Journalizing = menjurnal/ penjurnalan
Judgment sample = Sampel pertimbangan
----------------------------------
L
Land = Tanah
Ledger = Buku besar
LIFO (Last In First Out) = Masuk Terakhir Keluar Pertama
Liability = Kewajiban/utang
Long term debt = Utang jangka panjang
Loss on sale equipment = Rugi dari penjualan peralatan
Lower cost or market = Nilai terendah antara kos atau nilai pasar
----------------------------------
M
Monetery unit = Unit moneter
Mortgage payable = Utang hipotek
Machinery = Mesin
Market value = Nilai pasar
Marketable security = Surat berharga
Merchandise inventory = persedian barang dagangan
Miscellaneous expense = beban lain- lain
----------------------------------
N
Net income = laba bersih
Notes payable = utang wesel
Notes receivable = piutang wesel
----------------------------------
O
Office supplies expense = beban perlengkapan kantor
Office equaipment = pendapatan operasi
Office fixture = perabot kantor
Office salaries expense = beban gaji bagian kantor
Operating income = pendapatan operasi
Opportunity cost = beban kesempatan
----------------------------------
P
Paid in capital = penyetoran modal
Partnership = persekutuan
Periodic system = sistem periodic
Perpetual sytem = sistem perpetual
Prepaid rent = sewa dibayar dimuka
Prepaid insurance = asuransi dibayar dimuka
Petty cash = kas kecil
Posting = pemindahan jural ke buku besar
Post-closing trial balance = neraca saldo setelah jurnal penutup
Preferred stock = saham preferen
Present value = nilai sekarang
Prior period adjustment = penyesuaian tahun sebelumnya
Private accoumtant = Akuntan non public
Property divedend = dividen property
Public accountant = akuntan publik
Proprietorship = perusahan berbentuk perorangan
Purchase = Pembelian
Purchase discount = Diskon pembelian
Purchase return = Retur pembelian
----------------------------------
Q Pendapat wajar tanpa syarat
Qualified Opinion =
Quick Ratio = Ratio aktiva tunai
----------------------------------
R
Ratio = Rasio
Ratio analysis = Analisis rasio
Raw material inventory = Persediaan bahan baku
Rent expense = Beban sewa
Rent income = Pendapatan sewa
Repair expense = Beban reparasi
Restricted cash = Kas dibatasi untuk penggunaan tertentu
Retained earning = Laba ditahan
Retail method = Metoderetail dalam penilaian persediaan
Revenue = Pendapatan
Reversing entry = Jurnal pembalik
----------------------------------
S
Salary expense = Beban gaji
Salary payable = Utang gaji
Sales = Penjualan
Sales discount = Diskon penjualan
Sales expense = Beban penjualan
Sales journal = Jurnal penjualan
Sales return = Retur penjualan
Sales salary = Gaji bagian penjualan
Salvage/residual value = Nilai sisa
Selling expense = Beban penjualan
Serial bonds = Obligasi berseri
Share/stock = Saham
Sinking funds = Dana pelunasan
Single step income statements = Laporan laba rugi langkah tunggal
Social accounting = Akuntansi social
Span of control = Rentang pengawasan
Standard cost = Biaya standar
Stock dividend = Dividen berupa saham
Stock exchange = Pasar modal
Stock holder = Pemegang saham
Stock holder equity = Ekuitas pemegang saham
Stock opname = Pemeriksaan persediaan
Stock split = Pemecahan saham
Stock subscription = Pemesanan saham
Store equipment = Peralatan toko
Store supplies expense = Beban perlengkapan toko
Straight line method = Metode garis lurus
Subscribed capital stock = Saham yang dipesan
Subscribtion receivable = Piutang pemesanan saham
Subsidiary ledger = Buku besar pembantu
Sum of the year digits = Metode depresiasi jumlah angka tahunan
----------------------------------
T
T-account = Akun bentuk T
Tangible fixed asset = Aset tetap berwujud
Taxes = Pajak
Tax payable = Utang pajak
Telephone expense = Beban telepon
Term of trade = Syarat perdagangan
Time value of money = Nilai waktu uang
Transportation-in = Biaya angkut pembelian
Transportation-out = Biaya angkut penjualan
Treasury stock = Saham perbendaharaan
Trial balance = Neraca saldo
----------------------------------
U
Unit of activity method = Metode unit aktivitas
Unit Cost = Harga perunit
Unit Equivalent = Unit setara
Unit Of Output Depreciation = Penyusutan dengan jumlah unut keluaran
Unit Product Cost = Biaya unit produksi
Unit Profit Graph = Grafik laba perunit
Unit Still In Process = Unit dalam Proses
Unlimited Liabilities = Kewajiban tak terbatas
Unqualied Opinion = Pendapatan Wajar
Unvoidable Cost = Biaya yang terhindarkan
Useful Life = Masa Pengunaan
Utility expense = Beban penunjang
----------------------------------
V
Variable Cost = Biaya variabel
Variable Cost Ratio = Rasio biaya Variabel
Variable Efficiency Variance = Penyimpangan effisiensi biaya variabel
Variance Analysist = Analisa selisih
Variance Analysist Report = Laporan analisa penyimpangan
Verability = Daya uji
Vertical Analysist = Analisa Vertical
Volume Variance = Penyimpangan dalam isi
Voucher = Dokumen pembayaran
Voucher payable = Utang voucher
Voucher Register = Pemeriksaan dokumen dasar
Vouching = Biaya upah
----------------------------------
W
Wages = Upah
Wages payable = Utang upah
Work in process inventory = Persediaan barang dalam proses
Work sheet = Kertas kerja
Working capital = Modal kerja
Window dressing = Menampilkan agar kelihatan lebih bagus
Writing off acount receivable = Penghapusan piutang usaha
----------------------------------
Y Metode penghapusan
Yield =
Yield Variance = Penyimpangan hasil
----------------------------------
Z
Zero Base Budgeting = Penganggaran atas dasar nol